LOCUSONLINE, GARUT – Sementara para kepala desa dimanjakan di ballroom hotel berbintang, masyarakat desa masih sibuk bergelut dengan harga pupuk yang melambung dan jalan desa yang berlubang seperti wajah penuh jerawat. Forum Swadaya Reformasi Indonesia (FSRI) menggelar kegiatan bertajuk Peningkatan Kapasitas Kepala Desa Bahagia dan IPTEK Ketahanan Pangan, Kamis (10/7/2025), di Ballroom Kassiti Fave Hotel, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.
Acara yang dibungkus dengan semangat “desa mandiri dan bahagia” ini, menurut Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Bambang Hafidz, bertujuan untuk mencetak kepala desa yang bukan hanya bahagia, tapi juga bisa menularkan kebahagiaan itu ke bawahannya. Sayangnya, tak disebutkan bagaimana kebahagiaan itu akan menyentuh petani yang hasil panennya terus ditekan harga pasar.
“Ini kegiatan penuh nilai manfaat,” ujar Bambang, tanpa merinci manfaat tersebut dalam angka atau indikator pembangunan yang nyata.
Baca juga :
Nyawa Kalah Mahal dari Tarif Kendaraan, Kapal Tenggelam Regulasi Ikut Karam
Dengan mengutip Undang-Undang Desa, Bambang menegaskan pentingnya pembinaan kepala desa. Namun, alih-alih memperkuat pelayanan dasar di desa, acara ini justru mempertebal kesan bahwa pembinaan lebih nyaman dilakukan di ruang ber-AC dengan sajian coffee break tiga kali sehari, ketimbang di lapangan tempat warga mengais harapan.
Senada, Kepala Bidang Ketahanan Bangsa Bakesbangpol, Asep Ertanto, mengapresiasi FSRI yang dinilainya menjadi contoh LSM yang “berkontribusi”. Namun, kontribusi yang dimaksud tampaknya lebih banyak berputar di panggung-panggung seminar daripada program nyata di desa seperti sanitasi, digitalisasi data desa, atau reformasi BUMDes yang mandek.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”