“Ini bukan semata hukum, ini ideologi,” ujar Hasto yang tampaknya makin mantap menulis sejarah versi sendiri di tengah jeruji besi.
“Salam Merdeka!” pekik Hasto, menutup pembelaannya. Sambil menggenggam buku pleidoi bersampul merah, ia menyebut tulisan itu lahir dari memoria passionist—kenangan penderitaan para pahlawan bangsa. Tampaknya, ia ingin menegaskan bahwa dirinya kini berdiri sejajar dengan mereka—setidaknya secara naratif.
Dan mungkin, hanya di Indonesia, tersangka kasus korupsi bisa bicara tentang Palestina, Konferensi Asia Afrika, dan iCloud partai dalam satu paragraf pembelaan.
Di luar pengadilan, masyarakat masih bertanya: Di mana sebenarnya Harun Masiku? Tapi di dalam ruang sidang, perhatian justru tertuju pada kepegalan tangan seorang Sekjen yang memilih jadi sastrawan dadakan demi menggubah kisah politik menjadi puisi perlawanan.
Sementara itu, HP yang konon direndam tetap jadi simbol paling tragis sekaligus komikal dari kasus ini: suara yang tenggelam, bukti yang tak terdengar, dan keadilan yang mengambang. (Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”