Tak tanggung-tanggung, keduanya pun mengklaim memiliki visi dan misi yang sama dalam membela wong cilik. Meski, lagi-lagi, tak dijelaskan secara rinci apa visi itu selain jargon yang digemari kamera.
Sebagai bonus teatrikal, Abang Ijo mengundang Wamenaker untuk bertandang ke Purwakarta. Tentu saja, demi menjadikan kabupaten itu “lebih istimewa”. Dalam narasi pembangunan berbasis kunjungan ini, cukup datang dan tersenyum, maka sistem perlindungan tenaga kerja pun otomatis berbenah.
Tak ingin kehilangan momentum kampanye, Wamenaker menutup pertemuan dengan jargon nasional: “Semangat Indonesia, Indonesia terang bersama Prabowo-Gibran.” Terdengar seperti slogan iklan, namun dengan sentuhan kenegaraan.
Dan begitulah, pertemuan dua pemimpin ini menjadi bukti bahwa dalam dunia birokrasi modern, aksi nyata kadang bisa ditunda, selama retorika dan pencitraan berjalan lancar. (Laela)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”