Kepala Dinas Koperasi Garut, Ridzky Ridznurdhin, tampak puas. Ia menyebut koperasi bukan tujuan akhir, tapi alat menuju sejahtera. Alat yang kini datang serentak ke 442 titik—meski belum jelas apakah semua “alat” itu sudah punya operator yang paham cara menyalakannya.
“Pelatihan pengurus, SOP, pembiayaan, semua segera menyusul,” katanya, seperti juru kampanye program yang belum turun ke lapangan. Belum terbukti bisa jalan, tapi penghargaan sudah siap dibagikan. Beberapa insan koperasi diberi piala, mungkin sebagai pengingat bahwa di tengah koperasi-koperasi baru yang masih belajar berjalan, ada yang pernah, setidaknya, bisa berdiri.
Sayangnya, satu hal luput dari gegap gempita peluncuran: rakyat kecil tak butuh koperasi yang sekadar eksis di kertas. Mereka butuh koperasi yang hidup—dan mampu menolong mereka dari lilitan utang harian dan harga kebutuhan pokok yang tak kunjung logis.
Mendirikan koperasi memang mudah. Membangunnya agar tidak jadi bangunan kosong berkedok ekonomi kerakyatan, itu yang sulit. Tapi seperti biasa, pemerintah selalu unggul dalam urusan peluncuran. Soal keberlanjutan? Itu urusan nanti—atau urusan bupati berikutnya. (Suradi/Nuroni)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”