“Kami ingin guru tidak takut lagi dengan sertifikasi,” lanjut Nugroho, seolah masalah utama guru hari ini adalah takut, bukan tumpukan administrasi, beban kerja, atau gaji yang kalah dari youtuber.
Acara ditutup dengan optimisme dan selfie. Bahwa Garut kini punya 500 guru digital-ready — setidaknya di foto dokumentasi. Sementara realitas pendidikan menunggu: ruang kelas, jaringan internet, dan murid-murid yang lebih akrab dengan TikTok daripada modul daring.
Ketika transformasi digital disulap jadi seminar berkala dan foto dokumentatif, yang tumbuh bukan kualitas pendidikan, melainkan ilusi kemajuan. Guru boleh melek teknologi, tapi siapa yang mengajari sistemnya untuk ikut sadar realitas? (Suradi/Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”