Namun, publik masih menunggu: apakah koperasi ini benar-benar akan bergerak sebagai penguat ekonomi rakyat? Ataukah cukup berhenti sebagai simbol politik dan papan nama di desa yang ujung-ujungnya jadi beban pengurus karena minim modal dan bimbingan?
Festival budaya pun sudah dijadwalkan, dari pertunjukan air mancur tematik sampai parade kereta kencana — membuktikan bahwa narasi “ekonomi kerakyatan” bisa tampil glamor asal punya panggung yang cukup luas. Tema besar “Ngurus Lembur, Nata Kota, Ngosrek Purwakarta Istimewa” pun terdengar megah, meskipun rakyat belum tentu tahu siapa yang benar-benar diurus dan apa yang sebenarnya ditata.
Dengan sokongan sponsor seperti Bank BJB dan BPJS Ketenagakerjaan, acara ini tampak seperti simbiosis antara kepentingan citra pemerintah dan keterlibatan korporasi, dibungkus dalam kemasan pesta dan foto-foto untuk unggahan media sosial.
Jika koperasi-koperasi ini kelak hanya tinggal plakat dan papan nama, maka “kado ulang tahun” ini tak lebih dari kemasan tanpa isi. Karena ekonomi rakyat tak cukup didorong dengan panggung dan piagam, tapi dibutuhkan pendampingan, kejujuran niat, dan konsistensi membumi — sesuatu yang tak selalu bisa dipamerkan di acara seremonial. (Laela)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”