Kamis, 4 Juni 2026

Mencari Keadilan Melalui RDP ke Komisi III DPR RI, Advokat: Polri Harus Paparkan Tentang Scientifik Crime Investigation

Photo Author
locusonline, Locusonline.co
- Senin, 14 Juli 2025 | 11:31 WIB

LOCUSONLINE.CO, GARUT  - Memperjuangkan hak hukum seorang warga Garut yang bekerja sebagai guru di SDN Pejaten 2 Pangandaran yang jasadnya ditemukan di wilayah hukum Polsek Sidareja, Polres Cilacap, Polda Jawa Tengah.

Kuasa hukum keluarga almarhum meminta Komisi III DPR RI untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) tentang proses hukum yang dilakukan pihak Kepolisian Polres Cilacap, Polda Jawa Tengah, karena terkesan tidak mau melakukan eksumasi terhadap jasad almarhum.

Lalu, siapakah almarhum guru tersebut dan kenapa kematiannya dipersoalkan?

Nama guru tersebut adalah Dindin Rinaldi Choerul Insan. Seorang pria asal Garut yang mendapat amanah sebagai guru SD (Sekolah Dasar).

Sebagai abdi negara, semasa hidupnya Dindin rela bekerja di desa yang jauh dari keluarga tercintanya, semata-mata untuk mencurahkan hidupnya sebagai pendidik.

Pengabdiannya kepada tanah air ia lakukan sepenuh hati. Walau Dindin lahir dari keluarga terkemuka dan dari kalangan menengah atas, namun Dindin tidak pernah mengandalkan kelebihan yang dimiliki keluarganya.

Dindin hidup sederhana. Walau keluarganya mampu membelikan ia kendaraan roda empat, namun Dindin tidak mengharapkannya. Ia lebih memilih kendaraan Roda dua milik kakaknya.

Dindin juga dikenal sangat mencintai dan sangat dicintai keluarganya dan khusudnya ayah dan ibunya. Sehingga, untuk melepas rindu, setiap kali datang hari Minggu atau hari libur sekolah ia kemudikan kendaraan roda duanya dari kontrakannya di Perum Artha Graha Pajaten Blok A-121 Dusun Nengklok RT 008 RW 009 Desa Pajaten, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran menuju Jl. Samarang, Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut.

Pertemuan satu kali selama satu pekan itu dia manfaatkan untuk berkumpul dengan ayah dan ibu yang ia cintai. Setiap kali pulang ke kampung halamannya, Dindin manfaatkan untuk bercengkrama dengan ayahnya yang dikenal sebagai tokoh agama, dan ibu tercintanya yang selalu menanti kehadirannya.

Pria berwajah tampan berperawakan tingggi kurus, berkulit putih itu dikenal sebagai seorang yang cerdas, baik dan sederhana.

Karirnya pun sangat baik. Bahkan, berdasarkan informasi dari rekan sesama guru, prestasi Dindin sebagai guru olahraga menjadi kebanggaan, sehingga Dindin diajukan sebagai Ketua Komite Olahraga Kecamatan (KOK).

Namun sayang, tiba-tiba Dindin dikabarkan telah meninggal dunia karena bundir (bunuh diri). Kabar tersebut pertama kali didengar oleh keluarga dari Polsek Sidareja. Sementara masyarakat tahu dari pemberitaan yang disampaikan media massa.

-
Kuasa Hukum keluarga Almarhum Dindin Rinaldi Choerul Insan, salah seorang guru yang disebut pihak Kepolisian meninggal karena bunuh diri. Sementara pihak keluarga tidak percaya sehingga meminta pihak kepolisian melakulan eksumasi terhadap jasad korban untuk memastikan alasan kematian Dindin yang selama hidupnya bertugas sebagai guru di SDN Pajaten II Pangandaran, Jawa Barat. (Ft: ist)

Kuasa Hukum keluarga Almarhum Dindin, Asep Muhidin, S.H., M.H mengajukan RDP ke Komisi III DPR RI untuk mendapatkan keadilan dan penjelasan yang utuh sesuai dengan SCI (Scientific Crime Investigation) dari Polri, karena selama ini tidak pernah mendapatkan penjelasan yang menguatkan bahwa korban benar-benar bunuh diri, dengan cara menabrakan diri kepada Kereta Api, karena tidak ada saksi satu orang pun yang melihat langsung korban melakukan upaya bunuh diri.

"Kami juga mendapatkan keterangan-ketarangan yang sulit dipahami dan banyan ketidakcocokan keterangan dari para saksi," ujar Asep Muhidin kepada wartawan di DPR RI, Senin (14/07/2025).

Pengacara muda yang dikenal sangat kritis dan memiliki keberanian tanpa batas ini mengaku sudah menurunkan timnya ke berbagai lokasi, salah satunya ke sekolah dan sekitarnya. Dia membagi tugas kepada timnya untuk mencari informasi tentan kegiatan Dindin sehari-hari.

"Hasil investigasi tim yang kami sebar di Pangandaran ada banyak keanehan. Pertama Dindin dikenal sangat baik dan diajukan sebagai Ketua OKK, tetapi satu hari sebelumnya terlihat gelisah. Bahkan salah satu guru mengabadikan keanehan sikap almarhum Dindin. Kedua, ada pihak-pihak yang membuat rumor aneh. Dindin dikenal sangat baik kepada siswa dan masyarakat, tetapi mati mengenaskan karena bunuh diri akibat tidak direstui untuk menikah," tegas Asep.

Dari kedua informasi tersebut, Asep Muhidin beserta tim melakukan pendalaman lagi. Asep mencari tahu siapa pihak yang membuat rumor kematian Dindin karena dihalang-halangi menikah. Sementara keterangan teman sejawatnya, Dindin bukanlah pria dengan tipikal baperan dan gampang mencintai seseorang.

"Sahabat almarhum membantah jika Dindin akan menjadi orang yang merugi, dengan melakukan bunuh diri karena tidak bisa menikah. Dindin itu akademisi dan bukan golongan sumbu pendek. Bahkan Dindin selama hidupnya selalu cuek dan dingin kepada para gadis yang ingin mendekatinya," terang Asep.

Asep mengaku sudah menyampaikan temuan itu kepada pihak kepolisian agar ditindaklanjuti. Yang mengherankan, kata Asep, setiap pedagang yang bahkan jaraknya cukup jauh dari lokasi sekolah mendapatkan informasi yang sama, sehingga Asep menduga penyebar hoaks itu memiliki motif.

"Motifnya saya belum bisa menyimpulkan. Tetapi buat apa mereka menyebarkan hoaks bahwa kematian Dindin dikarenakan bunuh diri karena tidak mendapat restu. Kalau benar, minimal ada petunjuk siapa dan dari mana asal perempuannya. Kami curiga ini menjadi bagian dari motif sesorang terhadap Dindin," ujarnya.

Asep mencurigai ada dugaan kejahatan yakni upaya pembunuhan terhadap Dindin. Bukan tanpa sebab, Asep mengaku sudah mengumpulkan gambaran sebagai petunjuk bahwa Dindin meninggal secara tidak normal.

"Di kontrakan banyak bercak darah, tetapi almarhum ditemukan meninggal di lokasi yang sangat berjauhan. Butuh waktu 50 sampai satu jam untuk menempuh perjalanan dari kontrakan sampai ke lokaski ditenukannya mayat korban," terangnya.

Perbedaan keterangan dari pihak kepolisian terkait saksi terakhir kali melihat korban meninggalkan rumah juga menjadi bagian lain yang menjadi kecurigaan Asep Muhidin.

"Menurut Polisi saksi itu adalah tetatangganya, seorang bapak. Namun saksi lain yang ia temui mengatakan saksi terakhir adalah anak kecil, sedangkan ayahnya sedang sakit. Saya curiga, siapa yang keluar rumah dengan membawa motor korban, karena korban sudah kehilangan banyak darah," tandasnya.

Asep menambahkan, untuk memastikan apakah Komisi III DPR RI bersedia menggelar RDP dengan dirinya, dia sengaja datang ke Komisi III untuk memastikan surat yang ia ajukan sejak Desember tahun 2024 itu sudah tercatat atau belum.

"Tadi saya sudah konfirmasi ke petugas Sekretariat Komisi III DPR RI, alhamdulillah surat yang kami ajukan sudah ada dalam daftar, hanya belum teragendakan. Saya akan sekuat tenaga agar Komisi III mau menerima RDP yang saya ajukan," pungkasnya. (Asep A)

Editor: locusonline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X