Tindakan ini, menurutnya, adalah manual book dari proyek strategis nasional yang tak strategis bagi warga. Korupsi, intimidasi, pelanggaran HAM, dan degradasi lingkungan jadi bonus dari mega proyek ini.
Ahmad Badawi dari FMN menyentil peran perguruan tinggi: kampus hari ini, menurutnya, bukan lagi menara gading, tapi lebih seperti menara pengintai investor. Riset dan promosi pengetahuan diorientasikan untuk menyokong KEK Mandalika—bukan sebagai kritik, tapi sebagai alat pembenaran.
Diskusi publik pun menjadi medan perjuangan terakhir untuk menyuarakan suara yang sengaja diredam. Mahasiswa, akademisi, dan pemuda diajak kembali mempertanyakan: pembangunan untuk siapa?
Pernyataan Sikap: Rakyat Tak Akan Diam
Diskusi diakhiri dengan pernyataan sikap:
1. Hentikan keterlibatan aparat dalam penggusuran Tanjung Aan.
2. Hentikan pelanggaran HAM atas nama pembangunan.
3. Evaluasi total proyek KEK Mandalika.
4. Wujudkan reforma agraria sejati, bukan reforma investor.
Pembangunan tak boleh berjalan di atas puing rumah rakyat dan air mata petani. Di Tanjung Aan, senam pagi adalah isyarat. Bahwa kekuasaan bisa berdansa di atas tanah yang diperebutkan. Dan investor bukan lagi tamu, tapi tuan rumah yang menggusur penghuni aslinya.
Sementara itu, rakyat menunggu: apakah suara mereka akan tetap diabaikan, atau justru menjadi batu pertama yang mengguncang fondasi pembangunan semu bernama KEK Mandalika. (Laela)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”