Kamis, 4 Juni 2026

Hajat Elite Ala Dedi Mulyadi, Nyawa Rakyat Jadi Tumbal: Makan Gratis Berujung Tragis di Pendopo Garut

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Sabtu, 19 Juli 2025 | 08:39 WIB
VA bocah 8 tahun korban makan gratis Pesrta Pernikahan Wakil Bupati Garut dengan Anak Gubernur Jabar
VA bocah 8 tahun korban makan gratis Pesrta Pernikahan Wakil Bupati Garut dengan Anak Gubernur Jabar


LOCUSONLINE, GARUT — Sebuah pesta rakyat bertabur pejabat berujung duka mendalam. Tiga nyawa melayang dan puluhan luka-luka dalam hajatan mewah pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina. Di balik gegap gempita gelaran penuh simbol kuasa itu, rakyat kecil justru kehilangan napas—secara harfiah dan simbolik. Minggu, 19 Juli 2025





Tragedi ini terjadi pada Jumat, 18 Juli 2025, di Pendopo Garut, tempat pesta digelar meriah, lengkap dengan makan gratis yang rupanya tak gratis dari risiko. Data Dinas Kesehatan Garut mencatat, selain tiga korban tewas—termasuk seorang bocah delapan tahun dan seorang anggota polisi—sebanyak 23 warga lainnya dilarikan ke rumah sakit. Delapan di antaranya masih dirawat intensif di RSUD dr Slamet Garut.





Ketua DPRD Garut, Aris Munandar, menyebut insiden ini sebagai “kejadian luar biasa dan di luar dugaan”. Pernyataan yang justru memperkuat kesan bahwa pesta rakyat ini lebih pantas disebut sebagai pesta kelalaian. “Saya syok mendengar kejadian ini,” ujarnya saat menjenguk korban.





Desakan pun muncul dari DPRD agar aparat penegak hukum tidak membiarkan tragedi ini menguap begitu saja. Ketua DPRD menuntut penyelidikan transparan atas insiden yang terjadi di tengah pesta yang dihadiri lebih dari 5.000 orang tersebut. Sayangnya, hingga kini, belum ada kepastian apakah panitia acara—yang tentu bukan rakyat jelata—akan dimintai pertanggungjawaban.





Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto menyatakan pihaknya masih "mengevaluasi dan mendalami". Pernyataan normatif yang tampak tak sebanding dengan jumlah aparat yang dikerahkan—400 personel gabungan—namun gagal mencegah insiden mematikan akibat kerumunan tak terkendali.





Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, dalam upaya penenangan publik, menjanjikan semua biaya perawatan korban ditanggung pemerintah daerah. Ia menyebut penyebab tragedi adalah desakan massa akibat “antusiasme tinggi” untuk makan gratis. “Banyak anak kecil dan orang tua, terinjak-injak karena kekurangan oksigen,” katanya.





Sebagai langkah penyesalan simbolik, sisa rangkaian pesta akhirnya dibatalkan. Tapi pertanyaannya, apakah pembatalan ini cukup untuk menebus nyawa Vania Aprilia (8), Dewi Jubaedah (61), dan Bripka Cecep Saeful Bahri (39)? Ataukah kisah ini hanya akan menjadi satu lagi catatan bahwa dalam pesta kekuasaan, nyawa rakyat hanyalah statistik?


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X