Dalam deklarasinya, Tuti mengutip arahan Presiden: koperasi harus menjadi “rumah besar ekonomi rakyat”. Namun hingga kini, rumah itu tampaknya masih belum punya pintu bagi petani, nelayan, dan buruh yang benar-benar membutuhkannya.
Slogan “dari kita, oleh kita, untuk kita” kini terasa hambar di tengah peluncuran-peluncuran yang lebih mirip pesta proyek ketimbang gerakan ekonomi rakyat. Di desa, masyarakat masih bertanya: di mana letak koperasi itu? Apa manfaatnya? Dan siapa sebenarnya yang diuntungkan?
Ketika roadmap menjadi tujuan dan bukan alat, dan ketika peluncuran jadi prestasi ketimbang dampak—maka koperasi tak lebih dari pajangan birokrasi: cantik di atas kertas, asing di lapangan.
Warga tak butuh koperasi yang bisa difoto dari drone, mereka butuh koperasi yang bisa menyelamatkan dapur mereka.(Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”