“Liburan bukan tentang tempat, tapi tentang esensi,” begitu kira-kira tafsir spiritual dari larangan ini.
“Warga Jabar itu 50 juta, masa semua mau senang?” kata Herman. Maka disimpulkanlah: dalam dunia kebijakan publik, yang penting bukan kegembiraan, melainkan ketahanan ekonomi. Kalau rakyat bisa menahan keinginan liburan anaknya, maka itu sudah kontribusi terhadap ketahanan nasional.
Kini, di tengah banyaknya kursi bus kosong dan hotel sepi tamu pelajar, Pemprov Jabar fokus ke pariwisata berbasis budaya dan lingkungan. Artinya: “kembali ke alam”, meski tanpa uang saku siswa. Alih-alih jalan-jalan ke luar kota, pelajar Jawa Barat kini diajak merenungi hijaunya sungai, sejarah gedung tua, dan pentingnya hemat dalam berwisata.
Daripada pelajar ikut study tour dan orang tua utang ke bank emok,
lebih baik seluruh sekolah field trip ke kantor gubernur—
gratis, dapat wawasan, dan bisa selfie di tangga kekuasaan. (Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”