Baca Juga : Belanja Jalan Terus, Penerimaan Nanti Dulu: RAPBN 2026 dan Jurus Sulap Fiskal
Dan jangan lupakan para influencer. Menurut Mufti, pekerja digital kini juga dihantui pungutan pajak, meski detailnya masih kabur mungkin karena pemerintah sendiri masih belum selesai menggali ide pajak baru lain: pajak ucapan “Selamat menempuh hidup baru” atau pajak tumpeng pernikahan?
Sementara itu, rakyat kecil kembali dihadapkan pada realitas baru: setiap sen yang berpindah tangan, tak peduli dalam konteks rejeki atau empati, kini dianggap sebagai potensi penerimaan negara.
Entah apakah nanti harus ada petugas pajak di depan pelaminan, siap menakar nominal amplop tamu, atau sistem pelaporan mandiri bagi yang menerima “hadiah” dari resepsi. Yang jelas, negara tampaknya tak lagi membedakan antara penghasilan dan pemberian, antara niat baik dan objek fiskal.
Jika pajak sudah mulai menyentuh amplop kondangan, mungkin sebentar lagi kita akan mendengar wacana baru: PPN untuk air mata duka, atau bea masuk untuk mahar pernikahan.
Dan di tengah semua ini, satu pertanyaan sederhana tetap menggantung: sebenarnya siapa yang sedang kondangan, dan siapa yang jadi tamu tak diundang di dompet rakyat? (Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”