Baca Juga :
Usai Dibuka Presiden, Esoknya KDMP Ditutup Mitra: Sponsor Tersinggung, Koperasi Tersandung
Tak kalah percaya diri, Kepala Desa Sekarwangi, Popon Hasanah, turut menyuarakan pernyataan khas pejabat desa: “Mari dukung koperasi ini!” Ia menjelaskan teknis simpan-pinjam—yang sayangnya tidak dijelaskan lebih teknis dari sekadar ajakan partisipatif. Sambil membagikan imbauan agar warga hati-hati menghadapi musim kemarau dan angin kencang, Popon juga menyelipkan pesan: hati-hati terhadap kebakaran. Sebuah pernyataan yang ambigu entah bencana alam, atau bencana manajerial?
Ia berharap produk desa bisa dipromosikan ke media sosial dan desa lain agar perputaran uang “sehat.” Namun dalam dunia nyata, uang yang sehat biasanya tidak tahan terhadap birokrasi yang sakit.
Optimisme Popon dan Solehudin sah-sah saja. Tapi ketika koperasi masih berjuang dengan angka dan warga sibuk dengan tagihan, janji-janji ‘murah’ dan ‘SHU’ perlu lebih dari sekadar seremoni desa. Koperasi bukan hanya tentang RAT, tapi juga RIT Realitas, Integritas, dan Transparansi.
Di balik semangat merah putih yang dikibarkan, warga hanya berharap satu warna: hijau. Bukan bendera, tapi uang yang benar-benar berputar, bukan hanya dijanjikan.
Dalam setiap pidato pembangunan, terselip kebutuhan yang lebih besar dari sekadar koperasi yakni akuntabilitas yang tak musiman seperti lomba agustusan. (Riyadi)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”