ArtikelDaerahInfrastrukturJawa BaratLifestyleNewsPurwakartaSorot

5 Juta, Lalu Pergi: Ketika Penggusuran Disulap Jadi ‘Bantuan Kemanusiaan

bhegins
×

5 Juta, Lalu Pergi: Ketika Penggusuran Disulap Jadi ‘Bantuan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Karikatur om zein
Ilustrasi
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

Warga dari Kelurahan Tegal Munjul, Munjul Jaya, dan Ciseureuh, semuanya wilayah yang terdampak penataan lahan negara dijanjikan akan mendapatkan rumah baru hasil kolaborasi antara Pemkab Purwakarta dan Pemprov Jawa Barat. Tapi, pembangunan rumah tersebut masih sebatas rencana dan janji, bukan realita yang bisa ditempati.

Baca Juga : Kades Cikujang dan Lelucon Dana Desa: Dari Wakaf ke Warung, Dari Posyandu ke Properti Pribadi

tempat.co

Pertanyaannya: sampai kapan warga harus bertahan di rumah sewa yang dibayar dengan dana satu kali transfer?

Dalam banyak kasus, proyek semacam ini seringkali menyisakan cerita tentang warga yang tak pernah benar-benar kembali ke hunian tetap, hidup berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, hingga menghilang dari radar pembangunan daerah yang katanya inklusif.

Angka Rp5 juta yang ditetapkan sebagai bantuan terdengar lebih simbolik ketimbang solutif. Apakah cukup untuk mencicil kembali kehidupan yang digusur atas nama penataan kota? Di mana kehadiran negara ketika bantuan ini habis sebelum rumah pengganti selesai dibangun?

Jika pembangunan hanya menguntungkan estetika kota dan investor, sementara rakyat kecil diusir dengan dalih “dukungan kemanusiaan”, maka apa bedanya pembangunan dengan penggusuran terstruktur?(Laela)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow