Pernyataan tersebut memicu gelombang kritik publik, termasuk dari massa buruh, mahasiswa, dan pengemudi ojek online (ojol) yang menggelar aksi demonstrasi pada 29 Agustus 2025 di DPR. Massa sempat mencari keberadaan Sahroni di kompleks parlemen.
Menanggapi kontroversi itu, Sahroni mengklarifikasi bahwa ucapannya tidak ditujukan untuk masyarakat luas. Ia menyebut kritiknya diarahkan pada logika berpikir yang menilai DPR bisa dibubarkan begitu saja.
“Bahasa tolol itu bukan pada masyarakat, tapi pada logika berpikir tertentu,” kata Sahroni saat dihubungi pada 26 Agustus 2025.(Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”