“Halte Gosong, Maaf Dibagi Gratis: Rakyat Disuruh Hirup Asap Kebijakan Gas Air Mata Gratis, Kepercayaan Publik Habis, Festival Vandalisme Bernama Demo: Negara Masih Rajin Bilang ‘Maaf’”
LOCUSONLINE, JAKARTA – Demo 29 Agustus 2025 di Jalan Jenderal Sudirman bukan sekadar unjuk rasa. Ia berubah jadi pertunjukan tragikomedi: halte TransJakarta terbakar, pos polisi dicorat-coret, pembatas jalan remuk, dan sampah menumpuk seperti pameran instalasi seni urban. Jakarta pagi itu seakan menggelar “festival kebijakan gagal” lengkap dengan asap gas air mata sebagai efek spesial.
Negara selalu punya satu kata andalan: maaf. Gas melon dicabut dari warung? Maaf. Pajak bumi bangunan melonjak 250%? Maaf. Rekening rakyat dibekukan tanpa sosialisasi? Maaf. Tanah telantar mau disikat negara? Maaf lagi. Kini, ketika halte terbakar dan ojol tewas dilindas Rantis BRIMOB, kalimatnya tetap sama: “maaf, insiden kecil.” Seolah maaf bisa menambal perut lapar, menurunkan pajak, atau menghidupkan kembali nyawa.
Lucunya, rakyat yang marah dianggap berlebihan. Padahal, bagaimana tidak murka kalau setiap kebijakan baru terasa seperti jebakan Batman? Warung kecil dicekal jual gas, rekening tiba-tiba tak bisa diakses, lalu tanah milik sahih pun bisa dianggap telantar. Apa selanjutnya? Bayar oksigen per napas?
Sisa gas air mata yang masih terasa di udara Sudirman pada Sabtu pagi hanyalah metafora paling jujur: rakyat sudah terlalu sering dipaksa menghirup kebijakan yang bikin sesak napas. Mata perih bukan hanya karena gas, tapi juga karena melihat masa depan yang makin buram.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”