“Dari Jakarta hingga Medan, dari Bandung hingga Makassar, pekik protes menggema. Tuntutan transparansi gaji DPR menjelma jadi kemarahan massal. Jalanan macet, gas air mata berhamburan, dan sejarah seolah mengulang babak baru perlawanan rakyat.”
LOCUSONLINE, JAKARTA — Gelombang unjuk rasa yang merebak di berbagai kota seakan jadi ujian: siapa yang lebih sabar, rakyat yang makin susah atau wakil rakyat yang makin tajir?
Sejak Senin (25/8), jalan-jalan dari Jakarta sampai Makassar penuh poster nyinyir: “DPR = Dewan Paling Rese,” “Gaji Naik, Harga Naik, Otak Turun,” hingga “Tunjangan Beras 12 Juta, Rakyat Nasi Aking.”
Kericuhan pecah di sejumlah kota. Mobil terbakar, halte rusak, dan massa bentrok dengan aparat. Sumbu kemarahan kian panjang setelah pernyataan anggota DPR yang bikin rakyat geleng-geleng kepala. Sahroni, misalnya, menyebut desakan bubarkan DPR sebagai “mental tolol.” Netizen pun membalas: “Lebih tolol mana, yang ngomong atau yang ngabisin anggaran?”
Bukan cuma mulut anggota DPR yang bikin panas, tapi juga rekeningnya. Tunjangan rumah Rp 50 juta, tunjangan beras Rp 12 juta, plus gaya hidup glamor yang dipamerkan di YouTube. Di tengah rakyat berebut minyak goreng curah, wakil rakyat sibuk memamerkan hunian Rp 150 miliar.
Tak heran, gedung berkubah kura-kura itu lagi-lagi jadi simbol jarak antara rakyat dan kekuasaan. Kalau 1998 mahasiswa naik ke atap DPR menuntut perubahan, kini rakyat bertanya-tanya: “Naik ke DPR lagi nggak, nih?”
Meski ribut soal tunjangan, RAPBN 2026 tetap menambah porsi untuk lembaga legislatif. MPR mendapat Rp 1,05 triliun, naik 16 persen. DPR dapat Rp 9,9 triliun, hanya turun tipis, tapi kalau dihitung lima tahun terakhir, anggarannya sudah naik 83 persen.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”