“Presiden Prabowo Subianto bertemu sejumlah ulama dan ormas Islam di tengah meningkatnya kegelisahan publik atas berbagai kebijakan pemerintah. Pertemuan ini dinilai menjadi simbol persatuan sekaligus ujian nyata bagi negara untuk menjawab tuntutan rakyat dengan kebijakan yang berpihak.”
LOCUSONLINE, JAKARTA – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam dinilai menjadi fase penting dalam meredakan eskalasi politik dan sosial yang tengah memanas. Agenda yang berlangsung di tengah riuhnya dinamika nasional itu membawa pesan persatuan sekaligus tantangan besar bagi negara.
Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, menilai langkah Presiden merangkul ulama perlu diapresiasi. Menurutnya, ulama memiliki kharisma moral yang berakar di tengah umat, sementara negara memiliki instrumen kebijakan untuk merespons kegelisahan publik.
“Kami menilai, kehadiran ulama dalam momen ini adalah kekuatan moral yang strategis. Mereka bukan hanya penyejuk hati umat, tetapi juga penuntun arah bangsa. Namun, ulama tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri. Negara harus bergandengan tangan dengan para kiai, habib, dan cendekiawan Muslim untuk membangun dialog kebangsaan yang tulus,” kata Romadhon, Sabtu (30/8/2025).
Pertemuan ini digelar di saat ketidakpuasan publik atas kenaikan biaya hidup, kebijakan pajak, hingga sorotan pada gaya hidup pejabat makin menyulut amarah. Dalam kondisi demikian, pertemuan Presiden dan ulama seolah menjadi jembatan untuk meredam tensi.
Romadhon mengingatkan, kedewasaan negara diuji bukan hanya dengan mengamankan demonstrasi, melainkan dengan mendengar dan mengolah aspirasi rakyat menjadi kebijakan nyata.
“Legitimasi politik sejati lahir dari kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ketika harga bahan pokok menekan, lapangan kerja masih terbatas, dan disparitas sosial semakin tajam, rakyat tidak cukup hanya dijanjikan persatuan. Mereka menanti bukti nyata dari pemerintah,” tegasnya.
Selain itu, ulama dinilai memiliki peran ganda: sebagai penyejuk umat sekaligus pengingat negara. Dalam sejarah bangsa, suara ulama kerap menjadi penentu arah, baik dalam masa perjuangan kemerdekaan maupun merawat persatuan nasional.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”