“Kami lihat alasan mereka ikut. Jangan cuma datang karena ada snack,” ujarnya, setengah bercanda.
Ia berharap peserta tak cuma pandai mendengar teori, tapi juga berani tampil dan bercerita tentang usahanya. “Jangan disimpan saja,” katanya.
Pesan yang bagus karena di dunia bisnis, diam bukan emas, tapi potensi yang lewat begitu saja.
Pelatihan ini berakhir dengan optimisme: perempuan Garut tak hanya bisa menata dapur, tapi juga menata brand story dan kalau perlu, menata ulang cara pandang bahwa sukses bukan monopoli yang punya dasi. (Suradi)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










