“Kami ingin Golkar dikenang oleh masyarakat. Bahwa Golkar itu ada, hadir, dan peduli,” tegas Elan.
Tampaknya, kini Golkar tidak hanya ingin dikenal sebagai partai tua yang berakar, tapi juga sebagai partai yang tahu cara memegang pisau dengan hati-hati.
Sementara itu, Rika Dewi (34), warga Desa Kembangkuning, tak bisa menyembunyikan rasa harunya setelah anaknya, Arsyad (7), ikut serta dalam sunatan massal ini.
“Senang, gembira, dan terharu karena anak saya bisa ikut. Dokternya ramah, pelayanannya bagus,” katanya dengan mata berbinar mungkin karena anaknya kini resmi dewasa secara politik.
Acara pun berakhir dengan tawa, foto bersama, dan janji akan “terus hadir untuk masyarakat.” Sementara di luar ruangan, baliho besar bertuliskan:
“Selamat Datang di Sunatan Massal Golkar Potong Sekali, Ingat Seumur Hidup.” (Laela)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










