"Radar bisa dibeli. Ambulans bisa dianggarkan. Tapi budaya siap siaga? Itu masih sinyal lemah apalagi kalau listriknya padam saat hujan turun."
LOCUSONLINE, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampaknya benar-benar siap menghadapi bencana setidaknya di atas kertas. Dalam Apel Siaga Kesiapsiagaan Bencana di Bandung, Rabu (5/11/2025), Dedi dengan lantang mengumumkan rencana besar: ambulans off-road, rumah sakit terapung, sampai radar cuaca baru yang katanya bakal nongol tahun depan.
Langkah-langkah itu terdengar seperti film aksi bertema heroik versi daerah. Mobil tangguh menembus lumpur, kapal medis mengarungi ombak, dan radar cuaca yang akhirnya dimiliki Pemprov sendiri setelah sekian lama “nebeng data” ke BMKG. Hebat, tentu saja. Tapi publik juga tahu: di negeri ini, yang paling cepat sering kali bukan respon bencana, melainkan proses seremonialnya.
“Selama ini Pemda Jabar ternyata belum punya radar sendiri,” kata Dedi.
Tentu saja publik lega, sekaligus heran: provinsi dengan APBD jumbo, tapi masih ‘nebeng radar’.
Rencana Dedi bukan tanpa nilai. Namun, di lapangan, persoalan klasik belum ikut apel: koordinasi lambat, anggaran nyangkut, dan warga yang masih lebih percaya “feeling” ketimbang peringatan dini BMKG.
“Culture orang Indonesia gak percaya sama early warning. Tapi kalau udah kena bencana, baru percaya,” kata Dedi.