Putri menyebut dulu dokter gigi Garut “hanya 30-an”, jumlah yang bahkan lebih sedikit daripada jumlah klinik kecantikan di satu ruas jalan Bandung.
Meski kini jumlahnya naik, rasio dokter vs warga masih seperti lomba tarik tambang yang timpang.
Ia mengakui, tanpa basa-basi:
“Ketertarikan praktik di Garut Selatan sangat rendah.”
Tak dijelaskan lebih lanjut, tapi publik sudah hafal penyebabnya:
jalan rusak, sinyal berdoa dulu baru muncul, fasilitas pas-pasan, dan jarak yang membuat bensin menangis.
Kalimat yang terdengar indah, tetapi dalam dunia nyata bisa berarti:
- bekerja jauh
- honor tidak selalu cepat cair
- pasien banyak
- keluhan lebih banyak
- tapi tetap diminta tersenyum.
Putri tahu para dokter muda punya masa depan gemerlap di kota gaji besar, pasien mapan, AC dingin, lampu praktik seperti film drama Korea.
Maka ia menyampaikan pesan yang pedas tapi penuh harap:
“Kalau nanti sukses di kota, jangan lupa Garut. Apalagi Garut Selatan. Tolong ingat kami.”
Kalimat yang terasa seperti kode keras: jangan meninggalkan kami bersama lubang-lubang karies ini.
Direktur RSUD dr. Slamet, dr. Inge Andriani Heriawan, menegaskan bahwa enam bulan di Garut bukan sekadar masa magang, tapi masa pendewasaan profesional:
- menghadapi pasien cerewet,
- alat terbatas,
- dinamika puskesmas,
- dan realita lapangan yang tidak seindah brosur fakultas kedokteran.
Program berlangsung sejak 22 Mei hingga 22 November 2025 di RSUD dr. Slamet, Puskesmas Tarogong, dan Puskesmas Pembangunan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









