[locusonline.co, JAKARTA] – Panggung persaingan super-app di Tanah Air kembali memanas. GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia, mengumumkan perombakan di puncak kepemimpinannya. Patrick Walujo resmi mengundurkan diri dari posisi Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) Perseroan, efektif per 24 November 2025.
Keputusan ini datang hanya berselang sehari setelah Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, secara terbuka mengonfirmasi adanya rencana merger raksasa antara GoTo dan kompetitornya, Grab. Sebagai gantinya, Dewan Komisaris akan menominasikan Hans Patuwo, seorang nama tak asing di ekosistem digital, untuk mengisi kursi yang ditinggalkan Patrick.
Pergantian pemimpin di tengah badai isu merger ini memunculkan pertanyaan besar: Apakah ini adalah sebuah langkah strategis biasa, ataukah ada intervensi dari pihak Istana yang sedang memainkan peran sebagai “sutradara” di balik layar bisnis raksasa ini?
Perjalanan GoTo: Dari Panggung Megah IPO Hingga Jurang Penurunan Valuasi
Untuk memahami konteks keputusan ini, kita perlu menengok kembali perjalanan GoTo sejak debutnya di pasar modal pada April 2022. GoTo mencatat sejarah sebagai emiten dengan penawaran umum perdana saham (IPO) terbesar di Indonesia, berhasil meraup dana segar hingga Rp 13,7 triliun.
Namun, gemerlap IPO itu tak bertahan lama. Saham dengan kode GOTO itu terus merosot, terbebani oleh sentimen negatif dan performa keuangan yang belum menunjukkan titik terang profitabilitas. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, status “decacorn“—sebutan bagi perusahaan dengan valuasi di atas US$10 miliar—luntur dari pundak perusahaan yang menaungi jutaan mitra driver dan pedagang online ini.











