Fakta menunjukkan bahwa investor dari Singapura sudah lama terlibat di GoTo. SVF GT Subco, sebuah entitas yang berafiliasi dengan SoftBank Vision Fund asal Jepang namun berbasis di Singapura, tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar GoTo dengan porsi 7,65 persen. Artinya, kepentingan modal dari Singapura sudah ada jauh sebelum isu merger ini mencuat.
Dampak bagi Pekerja: Antara Harapan dan Kecemasan
Salah satu pertanyaan paling krusial yang muncul dari isu merger dan pergantian kepemimpinan ini adalah dampaknya bagi para pekerja, baik yang berstatus karyawan tetap maupun mitra driver dan kurir.
Pihak GoTo sendiri, dalam siaran persnya, menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas perusahaan dan melindungi seluruh stakeholder, termasuk karyawan dan mitra. Namun, dalam proses merger dua perusahaan seukuran GoTo dan Grab, rasionalisasi dan efisiensi biasanya menjadi langkah yang tak terhindarkan. Ini bisa berarti adanya pemangkasan posisi yang tumpang tindih atau bahkan PHK dalam skala besar.
“Kami akan melakukan transisi kepemimpinan yang mulus dan berkelanjutan,” tulis Andre Soelistyo, Komisaris Utama GoTo, dalam siaran persnya. “Kami percaya di bawah kepemimpinan Hans Patuwo, GoTo akan semakin kuat dan fokus pada misi kami untuk mempercepat transisi digital di Indonesia.”
Sementara itu, serikat pekerja yang mewakili mitra driver GoTo menyatakan kekhawatirannya. “Kami berharap perubahan di level atas ini tidak mengorbankan kesejahteraan mitra driver yang menjadi tulang punggung perusahaan,” ujar ketua serikat pekerja tersebut.











