Religi

Menghidupkan Sunnah: Merangkai Kembali Cinta untuk Sang Kekasih Allah

rakyatdemokrasi
×

Menghidupkan Sunnah: Merangkai Kembali Cinta untuk Sang Kekasih Allah

Sebarkan artikel ini
Menghidupkan Sunnah. Merangkai Kembali Cinta untuk Sang Kekasih Allah

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

[locusonline.co] Pernahkah kita merasa, saat kata “sunnah” terucap, yang terbayang hanyalah serangkaian aturan? Sekadar daftar “yang diajarkan” dan “yang ditinggalkan”? Sahabatku, marilah sejenak kita menyelami maknanya dengan hati yang lebih lembut.

tempat.co

Jika Allah Yang Maha Pengasih mengulang-ulang perintah dan larangan-Nya dalam Al-Qur’an, bukankah itu adalah bentuk kasih sayang? Seperti seorang ibu yang tak henti mengingatkan anaknya yang hendak menyentuh api, “Awas, nak, panas!” Setiap pengulangan adalah teguran yang penuh cinta, sebuah peringatan yang lahir dari kepedulian, dan bisikan lembut agar kita tidak tersesat.

Ihyaaus Sunnah: Menghidupkan yang Tak Pernah Mati

Ihyaaus sunnah—dua kata indah yang sering kita dengar. Ihyaa artinya menghidupkan. Sunnah adalah jejak, tradisi, dan teladan. Lalu, menghidupkan sesuatu yang tak pernah mati? Sungguh sebuah paradoks yang indah.

Yang kita hidupkan sebenarnya bukanlah Sunnah itu sendiri, karena cahaya Rasulullah SAW abadi sepanjang masa. Yang kita hidupkan adalah cara pandang dan kesadaran kita akan Sunnah. Kita menghidupkannya dalam sanubari, dalam langkah kaki, dalam senyum yang kita tebarkan, dan dalam niat yang tulus di setiap hela nafas.

Sunnah bukan hanya ritual. Ia adalah napas kehidupan. Ia adalah uswah hasanah—warisan keteladanan sempurna dari Sang Kekasih Allah. Ia meliputi cara beliau beribadah dengan khusyuk (fiqh ibadah), cara beliau bermuamalah dengan jujur (fiqh muamalah), hingga cara beliau membangun negara yang adil (fiqh siyasah). Bahkan, cara kita mencintai Allah pun diajarkan dalam Sunnah, melalui tauhid yang membimbing hati kita hanya untuk-Nya.

Melampaui Bingkai Sempit: Sunnah adalah Cakrawala

Sayangnya, kadang kita terjebak mempersempit samudera Sunnah ini menjadi setetes embun. Kita mengurungnya hanya pada ruang mahligai pernikahan, seolah-olah Sunnah hanya tentang pemenuhan hasrat biologis. Ini adalah pengerdilan yang menyedihkan.

Rasulullah SAW diutus bukan untuk sekadar mengatur ranjang rumah tangga, tetapi untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Beliau adalah guru kemanusiaan, negarawan, pedagang yang dipercaya, dan suami yang penuh kasih. Menyempitkan Sunnah berarti mengurangi keagungan risalah yang dibawanya.

Dunia Ladang, Akhirat Tujuan

Islam mengajarkan kita visi yang jauh. Hidup di dunia ini hanyalah sebentar, bagai seorang petani yang singgah sejenak di ladang untuk menanam. Setiap kebaikan yang kita lakukan berdasarkan Sunnah adalah benih unggul yang kita tebar. Setiap kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang adalah pupuk yang menyuburkannya.

Kita mungkin tidak selalu melihat tunasnya tumbuh segera. Tapi percayalah, di akhirat nanti, kita akan memanennya—buah yang manis, lebat, dan abadi. Dunia adalah majro’atul akhirat, ladang untuk kehidupan akhirat kita yang sesungguhnya.

Bersholawat dengan Hidup dan Mati

Lalu, bagaimana bentuk sholawat kita yang paling hakiki? Bukankah sholawat bukan hanya untaian kata di bibir, tetapi juga kesetiaan dalam perbuatan?

Bersholawat yang sejati adalah ketika kita menjadikan hidup kita sebagai cermin dari akhlak Rasulullah. Ketika kita berdagang, kita meneladani kejujurannya. Ketika kita memimpin, kita mencontoh keadilannya. Ketika kita bersedih, kita meniru kesabarannya. Inilah sholawat dengan jiwa dan raga, sholawat yang diucapkan oleh kehidupan kita.

Syafaat: Harapan di Padang Mahsyar

Harapan di Padang Mahsyar

Dan di akhir perjalanan, di sebuah hari di mana matahari didekatkan, dan rasa haus menyiksa triliunan manusia, kita semua akan berlarian mencari perlindungan. Saat itulah, kita berharap pada sebuah syafaat (pertolongan)—syafa’atul uzhma.

Menghidupkan Sunnah, dengan ketulusan dan konsistensi, adalah salah satu ikhtiar kita untuk meraih janji indah itu. Itu adalah bekal yang kita kumpulkan untuk berjumpa dengan Nabi yang kita cintai, di bawah naungan Rahmat Allah, satu-satunya perlindungan mutlak di hari yang penuh kepanikan itu.

Maka, mari kita hidupkan Sunnah. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai bukti cinta. Bukan untuk dilihat, tetapi untuk mengharap Ridha-Nya. Karena dengan mengikuti jejaknya, kita tidak hanya menemukan Islam yang benar, tetapi juga menemukan makna hidup yang sejati.

Wallahu a’lam bish-shawwab.


Bergabunglah dengan Tim Jurnalis Kami!

Apakah kamu memiliki passion dalam menulis dan melaporkan berita? Inilah kesempatan emas untuk bergabung dengan situs berita terkemuka kami! Locusonline mencari wartawan berbakat yang siap untuk mengeksplorasi, melaporkan, dan menyampaikan berita terkini dengan akurat dan menarik.

Daftar

🔗 Tunggu apa lagi!

Daftar sekarang dan jadilah bagian dari tim kami!

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow