“Program KB ini jadi taruhan apakah pemerintah bisa benar-benar mengendalikan grafik kelahiran yang naik terus? Atau nanti cuma jadi laporan tahunan yang tebalnya nambah sama seperti jumlah penduduk Garut tiap tahun?”
LOCUSONLINE, GARUT – Di sebuah klinik kecil bernama Aster PKBI, Jalan Patriot yang ironisnya justru sedang berjuang menahan ‘patriot-patriot kecil’ lahir tanpa henti Bupati Garut Abdusy Syakur Amin datang melakukan inspeksi. Bukan untuk operasi besar, tapi operasi rem menahan laju kelahiran yang belakangan ngebut seperti motor knalpot brong malam minggu.
Angka yang ia sodorkan cukup bikin dahi ngangkat Total Fertility Rate Garut 2,2. Artinya, tiap ibu di Garut melahirkan “lebih dari dua anak” bahkan sebelum sempat istirahat dari sibuk mikirin harga beras dan uang sekolah.
“Kalau dibiarkan, populasi akan melesat,” kata Syakur, dengan nada seperti baru sadar bahwa Garut bukan cuma kota dodol, tapi juga pabrik bayi dengan shift tanpa henti.
Masalahnya jelas makin banyak anak lahir, makin berat PR pemerintah buat nyediain sekolah, layanan kesehatan, sampai lapangan kerja. Syakur tampak mulai menghitung dalam hati berapa gedung sekolah lagi yang harus dibangun sebelum rakyat protes di kolom komentar Instagram Pemkab?
Baca Juga : Ballroom Lawan Longsor, Garut Makin Retak, Pemerintah Masih Sibuk Presentasi
Dalam pelaksanaan monitoring MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang), Bupati mencoba memastikan bahwa warga Garut paham: masa depan bukan hanya soal nambah anak sampai rumah penuh, tapi soal anak yang punya daya saing, bukan daya rusuh.
“Fokus kami kualitas,” tegasnya. Ya, kualitas kata sakral dalam birokrasi yang sering dipakai, jarang terbukti.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










