“Bangunan hotel terus berdiri, seolah memberi pesan bahwa sawah di Garut bukan kawasan pertanian. Ini kawasan perekonomian versi premium.”
LOCUSONLINE, GARUT – Sejumlah warga Garut mulai bertanya-tanya: apakah lahan pertanian di Rancabango itu pindah agama atau sekadar “disulap” jadi hotel mewah? Yang jelas, di tengah janji manis perlindungan LP2B, bangunan megah itu berdiri gagah, sementara Bupati Abdusy Syakur Amin tampak memilih gaya silent mode, seperti pejabat yang sedang menghindari cicilan.
Gerbang Literasi Masyarakat Perjuangkan Keadilan (GLMPK) sudah berteriak sejak 27 Agustus 2025. Surat sudah dikirim, nomor sudah dicantumkan, tanda terima lengkap. Tapi sampai masuk musim hujan, respons dari Bupati tak juga nongol. Mungkin terselip di antara undangan peresmian bangunan baru siapa tahu.
Pengaduan Jalan, Tanggapan Jalan-Jalan
Ketua GLMPK, Bakti, mengaku bingung. Mereka sudah mengadukan dugaan alih fungsi lahan pertanian yang kini berubah rupa menjadi hotel elite. Tapi Bupati, katanya, tampak tak bergerak. Seolah-olah area Rancabango itu berada di peta tetangga, bukan wilayahnya sendiri.
“Aneh, Bupati sering orasi soal pelayanan prima. Tapi giliran rakyat butuh didengar, beliau mendadak jadi Pak Bupati ‘Hening Cipta’,” ujar Bakti yang didampingi sekretarisnya, Ridwan Kurniawan.
Bakti bahkan menyindir kemungkinan bahwa sebetulnya bukan pengaduannya yang bermasalah, melainkan siapa yang diadukan.
“Kalau yang mengadu rakyat kecil, responsnya kecil. Tapi kalau yang diadukan perusahaan tebal modalnya, Pemda mendadak tunduk. Seperti ada remote yang dipegang ‘bos besar’,” katanya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










