Dedy menyoroti turunnya harga daging ayam, cabai merah, dan telur ayam ras. Namun pada saat yang sama, beras medium dan LPG 3 kg justru mengalami tekanan. Warga tentu hanya tersenyum pahit: apa gunanya harga cabai turun jika beli LPG saja sudah bikin jantung berdebar?
Dalam paparannya, Dedy merinci tujuan HLM: memperkuat sinergi, koordinasi, antisipasi, responsivitas, hingga kolaborasi lintas lembaga. Kata-kata yang jumlahnya banyak bahkan hampir melebihi jumlah operasi pasar yang benar-benar dieksekusi di lapangan.
Bank Indonesia, BPS, dan Bulog disebut sebagai mitra stabilitas harga. Namun di tingkat bukan-elitis, warga lebih akrab dengan istilah lain: antrean panjang, stok tipis, dan harga naik menjelang akhir tahun.
Harapannya, HLM ini jadi wadah bertukar pikiran antarinstansi. Tetapi bagi masyarakat, pertanyaannya sederhana: kapan rapat berubah menjadi tindakan nyata?
Karena selama TPID sibuk mengevaluasi data, masyarakat terus mengevaluasi dompet. Satu-satunya hal yang benar-benar stabil adalah tradisi harga naik menjelang akhir tahun, rapat pengendalian inflasi menyusul kemudian.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










