LOCUSONLINE, JAKARTA – Pemerintah kembali mengeluarkan jurus andalan bernama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Klaimnya sederhana tapi menggoda ekonomi daerah bisa ngebut, asal KEK-nya dikelola serius, bukan sekadar papan nama proyek dan baliho peresmian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal sebagai contoh murid teladan. Keduanya sukses mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 8-9 persen angka yang bikin banyak daerah lain cuma bisa menghela napas sambil buka Excel APBD.
Batang, lewat KEK Industriopolis-nya, disebut berhasil memacu investasi, menyerap tenaga kerja, dan menggerakkan konsumsi rumah tangga. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Batang tembus 8,52 persen pada triwulan III 2025. Artinya, roda ekonomi berputar kencang, bukan cuma di atas kertas presentasi.
Airlangga menyebut KEK bukan sekadar alat bagi-bagi insentif investasi, tapi katalis transformasi ekonomi. Terjemahan bebasnya bukan cuma karpet merah buat investor, tapi juga mesin penggerak yang kalau dirawat bisa narik ekonomi lokal ikut melaju.
Efek domino pun diklaim terasa. Pengangguran menurun, kemiskinan ikut terkikis. Persentase penduduk miskin di Batang turun dari 8,73 persen menjadi 7,79 persen dalam setahun. Angka yang menunjukkan bahwa ketika industri bergerak, dompet warga tidak lagi diam.
Tak mau kalah, Kabupaten Kendal ikut ngebut. Pertumbuhan ekonomi 8,84 persen pada triwulan III 2025 jadi yang tertinggi di Jawa Tengah. Koridor Batang–Kendal–Semarang mulai terlihat seperti jalur cepat ekonomi, lengkap dengan spillover effect yang sering disebut pejabat, tapi jarang benar-benar terjadi.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









