“Bikin produk itu gampang. Modal Rp100 ribu juga jadi. Yang susah itu market. Selama ini inkubasi bisnis sering berhenti di modal, bukan di pembeli,” ujarnya blak-blakan.
Putri menyebut sekitar 90 persen UMKM Garut bergerak di sektor makanan dan minuman (FnB). Ia berharap kurasi ini menjadi pintu masuk ke pasar nasional, meski mengingatkan soal tantangan skala produksi.
“Retail bisa minta ribuan unit. UMKM kita bisa kaget ngahuleung. Karena itu kami pikirkan konsep collective brand, satu merek Garut untuk UMKM kecil yang belum lolos kurasi,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum APRINDO Pusat John Ferry menilai pelaku UMKM Garut bukan pemain kemarin sore. Dari pengalaman kurasi di berbagai daerah, produk Garut dinilai matang dan siap tanding.
“Kalau saya simpulkan, pelaku usaha Garut itu pemain lama. Sudah ngerti ritme,” ujarnya.
Menurut John, dominasi produk makanan dan minuman justru menjadi kekuatan, mengingat sektor tersebut paling tahan banting di pasar Indonesia. Dengan 90 ribu gerai retail di bawah jaringan APRINDO, peluang UMKM Garut terbuka lebar asal siap konsisten.
“Kami ditugaskan Kemendag untuk mengkurasi UMKM agar masuk retail modern. Ini bukan beban, tapi anugerah. Retail butuh UMKM, UMKM juga butuh retail. Soal laku atau tidak, biar konsumen yang memutuskan,” katanya.
Kepala Disperindag ESDM Garut Ridwan Effendi menyebut kurasi ini sebagai sinyal kebangkitan UMKM Garut di penghujung tahun. Sejumlah jaringan retail modern hadir langsung, mulai dari Lotte Grosir, Yogya, Yomart, Indomaret, Alfamart, Transmart, Superindo, hingga Asia Plaza.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












