Sehari tiga OTT menegaskan dua hal sekaligus. Pertama, KPK masih bekerja dan belum kehilangan taring. Kedua, korupsi masih betah bercokol di berbagai lini, dari penegak hukum, kepala daerah, hingga jejaring swasta yang setia menjadi mitra tak tertulis.
Fenomena ini mengingatkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih bersifat reaktif. Tangkapannya spektakuler, tetapi pencegahannya belum membuat pelaku kapok berjamaah. Sistem berjalan, tapi integritas sering tertinggal di pinggir lapangan.
Publik tentu patut mengapresiasi kerja KPK. Namun euforia OTT tak boleh meninabobokan satu fakta penting OTT bukan tujuan akhir, melainkan alarm keras bahwa sistem masih bocor. Selama korupsi terus mencetak “rekor harian”, selama itu pula perayaan penangkapan tak boleh berubah menjadi rutinitas.
KPK boleh mencetak hattrick. Tapi yang lebih dibutuhkan negeri ini bukan skor tinggi dalam penindakan, melainkan pertandingan panjang yang dimenangkan lewat pencegahan, keteladanan, dan keberanian membersihkan sistem tanpa tebang pilih.
Sebab korupsi bukan soal siapa yang ditangkap hari ini, melainkan siapa yang seharusnya tak pernah berani mencoba sejak awal.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












