Baca Juga : Sungai Banjir, Kebijakan Kering: Pemkab Garut Takpunya Muka, Mitigasi Cimanuk Dikerjakan Relawan
Namun, kebutuhan dasar tersebut justru menjadi titik lemah yang diakui langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menilai banyak lulusan SMA dan SMK di Jabar gagal terserap industri bukan karena kurang lowongan, melainkan karena kualitas dasar yang belum memadai.
“Apa kelemahan dasar masyarakat Jawa Barat? Matematika dasarnya lemah. Akibatnya, saat seleksi mereka kalah,” ujar Dedi.
Ia bahkan menyinggung praktik lama yang menurutnya terlalu gemar menutup masalah dengan laporan manis. Dedi menegaskan, kondisi pendidikan dan sosial harus disampaikan apa adanya, bukan dikemas agar tampak baik di permukaan.
“Jangan kamuflatif. Kalau pendidikan dasar masih bermasalah, katakan bermasalah. Kalau ada anak SD belum bisa baca tulis, katakan itu terjadi. Kalau ada kematian ibu dan anak, katakan itu terjadi,” tegasnya.
Masuknya puluhan industri baru seharusnya menjadi momentum emas bagi penyerapan tenaga kerja lokal. Namun tanpa pembenahan serius di sektor pendidikan dan pelatihan, Jawa Barat berpotensi hanya menjadi tuan rumah investasi sementara kursi kerja strategis diisi tenaga siap pakai dari luar daerah, bahkan luar negeri.
Di tengah gegap gempita investasi, satu pertanyaan masih menggantung: apakah industri yang datang nanti akan menyerap SDM lokal, atau justru membuka etalase baru bagi masalah lama yang belum dibereskan?*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













