“Stok ini mampu menjamin pasokan hingga melewati Natal dan Tahun Baru 2026,” kata Ahmad Rizal.
Namun pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, stok besar tak selalu berbanding lurus dengan kemudahan akses. Distribusi, pengawasan harga di tingkat eceran, dan pengendalian spekulan kerap menjadi titik lemah yang berulang.
Sidak Bulog memang penting sebagai sinyal kehadiran negara di pasar. Tapi publik tak bisa terus-menerus disuguhi narasi “aman dan stabil” tanpa evaluasi menyeluruh soal daya beli, upah, dan ketimpangan ekonomi.
Harga boleh di bawah HET, stok boleh ratusan ribu ton, tapi bagi sebagian warga, pertanyaan dasarnya tetap sama bisa beli atau tidak?
Jika pengamanan pangan hanya berhenti pada sidak dan angka statistik, maka stabilitas harga berpotensi berubah menjadi sekadar laporan optimistis tahunan, sementara dapur rakyat tetap bekerja keras menyesuaikan diri.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










