[Locusonline.co, Bandung] Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu membawa dua hal ke Kota Bandung: wisatawan dan sampah. Saat ribuan orang datang menikmati liburan, produksi sampah Kota Bandung ikut melonjak tajam. Tahun ini, kenaikannya diperkirakan mencapai 30 persen dan menjadi tantangan serius bagi pengelolaan kebersihan kota.
Nataru dan Tradisi Tahunan Bernama Lonjakan Sampah
Momentum libur Nataru sudah lama menjadi “musim panen” bagi sektor pariwisata Kota Bandung. Hotel penuh, pusat belanja ramai, dan kawasan wisata dipadati pengunjung. Namun di balik geliat ekonomi tersebut, ada persoalan klasik yang selalu muncul: lonjakan volume sampah.
Setiap tahun, peningkatan produksi sampah saat libur Natal dan Tahun Baru nyaris tak terhindarkan. Aktivitas konsumsi meningkat drastis, mulai dari makanan kemasan, minuman sekali pakai, hingga sampah hasil perayaan malam pergantian tahun yang kerap meninggalkan jejak panjang di ruang publik.
Produksi Sampah Kota Bandung Naik 30 Persen
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengungkapkan bahwa pada masa libur Nataru 2025, volume sampah mengalami kenaikan signifikan. Tahun ini, peningkatan produksi sampah diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dibandingkan hari normal.
Menurut Darto, lonjakan tersebut merupakan pola berulang yang selalu terjadi setiap akhir tahun. Oleh karena itu, pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar persoalan sampah tidak mengganggu kenyamanan warga maupun wisatawan yang berlibur di Kota Bandung.
Sampah Bisa Tembus 1.800 Ton per Hari
Puncak persoalan sampah biasanya terjadi saat malam Tahun Baru. Pada momen tersebut, produksi sampah Kota Bandung diperkirakan bisa mencapai 1.800 ton per hari. Angka ini menunjukkan betapa besarnya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah kota.
Lonjakan sampah berasal dari berbagai sumber, seperti kawasan wisata, pusat kuliner, area publik, serta permukiman warga. Sampah plastik, sisa makanan, dan limbah perayaan menjadi jenis sampah yang paling mendominasi selama periode libur Nataru.
Pengolahan Sampah Ditingkatkan, Armada Dikerahkan
Menghadapi peningkatan volume sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung meningkatkan kapasitas pengolahan sampah. Saat ini, kemampuan pengolahan sampah di Kota Bandung mencapai sekitar 325 ton per hari melalui berbagai fasilitas yang tersedia.
Selain pengolahan, pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti juga masih relatif aman. Armada pengangkut sampah dikerahkan lebih intensif untuk memastikan tidak terjadi penumpukan sampah di jalan, kawasan wisata, maupun lingkungan permukiman.
Aksi Bersih-Bersih Jadi Simbol Kepedulian
Di sela-sela peningkatan beban kerja petugas kebersihan, Pemkot Bandung juga menggelar berbagai kegiatan simbolik untuk meningkatkan kesadaran publik. Salah satunya adalah Aksi Bebersih di Stadion Siliwangi yang digelar pada Minggu, 28 Desember 2025.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menyampaikan bahwa aksi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Pemerintah berharap kegiatan bersih-bersih dapat mengingatkan masyarakat bahwa menjaga kebersihan kota bukan hanya tugas petugas, tetapi tanggung jawab bersama.
Nyaman Berlibur, Sampah Jangan Dititipkan
Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk menjaga kenyamanan selama masa libur Nataru. Kota yang bersih menjadi faktor penting agar wisatawan merasa betah dan ingin kembali berkunjung.
“Kita berusaha agar warga dan wisatawan nyaman berlibur di Kota Bandung,” ujar Darto. Namun di sisi lain, pemerintah juga mengimbau agar wisatawan tidak “meninggalkan kenangan” berupa tumpukan sampah di setiap sudut kota.
Sampah Jadi Isu Serius Pemkot Bandung
Persoalan sampah tidak lagi dipandang sebagai isu biasa oleh Pemkot Bandung. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama kebijakan daerah karena dampaknya yang luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Lonjakan produksi sampah saat Nataru mempertegas perlunya sistem pengelolaan yang lebih kuat. Tanpa dukungan anggaran dan infrastruktur yang memadai, risiko gangguan layanan kebersihan semakin sulit dihindari.
Pemkot Ajukan Tambahan Anggaran Rp90 Miliar
Untuk mencegah krisis layanan kebersihan, Pemkot Bandung mengajukan tambahan anggaran penanganan sampah sebesar Rp90 miliar. Anggaran tersebut direncanakan untuk menjaga operasional pengangkutan, pengolahan, serta layanan kebersihan tetap berjalan normal.
Tambahan anggaran ini dinilai krusial, mengingat beban pengelolaan sampah terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas wisata. Tanpa dukungan anggaran yang cukup, sistem persampahan Kota Bandung berada dalam kondisi rawan.
Wali Kota Ingatkan Ancaman Krisis Sampah
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka mengingatkan potensi krisis sampah yang bisa terjadi jika pengajuan anggaran tidak disetujui. Menurutnya, layanan kebersihan bisa mulai terganggu sejak pertengahan Januari 2026.
“Kalau tidak disetujui, tanggal 12 Januari kita mulai menghadapi krisis sampah. Kalau dibiarkan, bulan April bisa menjadi bencana sampah,” ujar Farhan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan sampah bukan isu sepele.
Persetujuan Gubernur Jadi Penentu
Saat ini, pengajuan tambahan anggaran penanganan sampah masih menunggu persetujuan Gubernur Jawa Barat. Persetujuan tersebut menjadi syarat utama agar pergeseran anggaran dapat dilakukan sesuai regulasi yang berlaku.
Pemkot Bandung berharap proses persetujuan dapat berjalan lancar. Tanpa dukungan tersebut, berbagai upaya pengelolaan sampah berpotensi tersendat di tengah tingginya tekanan produksi sampah pasca libur Nataru.
Peran Warga dan Wisatawan Tak Bisa Diabaikan
Di tengah ancaman lonjakan sampah, peran masyarakat dan wisatawan menjadi faktor penting. Pemerintah mengimbau agar warga dan pengunjung lebih bijak dalam mengelola sampah, terutama selama masa libur panjang.
Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik sekali pakai, dan memilah sampah dari sumber dapat membantu menekan beban pengelolaan sampah Kota Bandung.
Edukasi dan Kesadaran Jadi Kunci
Ke depan, Pemkot Bandung menilai edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan perlu terus diperkuat. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar persoalan sampah tidak selalu menjadi “tamu tak diundang” setiap musim liburan.
Jika semua pihak terlibat aktif, lonjakan sampah saat Nataru tidak harus berujung pada krisis. Bandung tetap bisa menjadi kota tujuan wisata, tanpa harus kebanjiran sampah setiap pergantian tahun. (**)














