Feri Fadzillah sendiri mengakui potensi UMKM Desa Parakan cukup besar, khususnya di sektor makanan dan minuman, sesuai data Diskop UKM Garut. Ia berharap UMKM setempat bisa “naik kelas” dan memiliki daya saing global.
“Banyaknya wirausaha bisa menekan pengangguran dan kemiskinan. Dengan itu Garut Hebat bisa terwujud,” ujarnya.
Narasi optimistis itu kembali menggema. Namun publik mencatat, jargon “naik kelas” sering kali berhenti di level wacana, sementara pelaku UMKM masih bergulat dengan persoalan lama: akses permodalan rumit, pendampingan tidak berkelanjutan, dan pasar digital yang diserahkan pada coba-coba sendiri.
Talkshow pun selesai. Spanduk diturunkan. Kursi dilipat. Dokumentasi aman.
UMKM kembali ke dapur produksi, menghitung biaya minyak, plastik kemasan, dan ongkos kirim.
Di titik inilah ironi itu terasa: UMKM diminta siap bersaing secara global, sementara dukungan negara masih sebatas hadir, berbicara, lalu pulang.
Jika UMKM harus go digital, barangkali birokrasi juga perlu naik kelas dari rajin seremoni menjadi konsisten mendampingi.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









