Sejarah Sukaregang membawa ingatan ke awal abad ke-20, masa kolonial Belanda. Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut yang ditulis Luna Aviantrini (2025), industri kulit di kawasan ini berkembang sejak 1920-an. Kala itu, kulit dimanfaatkan untuk jok delman dan pelana sepeda fungsional, sederhana, dan belum mengenal istilah limbah berbahaya.
Tokoh-tokoh seperti Haji Muhtar dan Haji Usman menjadi perintis pascakemerdekaan. Dengan alat seadanya, mereka membangun fondasi industri yang kini dibanggakan. Estafet diteruskan oleh generasi berikutnya seperti Haji Ayub dan Haji Ujang Solihin. Mereka bukan hanya membangun usaha, tetapi juga ekosistem ekonomi warga. Sungai pun ikut bekerja, meski tanpa kontrak dan tanpa upah.
Baca Juga : Perda Diperketat di Ruang Rapat, Pelanggaran Dibiarkan, Kasus Alih Fungsi Lahan Menguap
Keterampilan menyamak kulit diwariskan secara alami. Anak-anak belajar dari melihat dan membantu orang tua. Mereka mengenali tekstur kulit sejak dini, juga terbiasa dengan bau tajam bahan kimia. Menurut Wawan Ridwan (2024), keahlian perajin Sukaregang lahir dari kebiasaan panjang, bukan dari ruang kelas. Beberapa alat peninggalan Belanda masih digunakan, membuktikan bahwa tradisi memang lestari termasuk tradisi abai pada pengelolaan limbah.
Pasca kemerdekaan, jaket kulit menjadi primadona. Udara dingin Garut membuatnya relevan. Kulit tak lagi sekadar pelindung tubuh, tapi juga simbol gaya dan identitas. Produk Sukaregang kini beragam: jaket, tas, sepatu, dompet hingga gantungan kunci. Kulit domba Garut dikenal lembut, kulit sapi dan kerbau lebih keras. Para perajin memahami bahan baku dengan baik. Sayangnya, pemahaman terhadap daya dukung lingkungan belum selalu sehalus sentuhan mereka pada kulit.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









