Proses penyamakan mulai dari perendaman, pengapuran, pengerokan, hingga pencelupan adalah inti industri ini. Proses panjang yang menghasilkan nilai ekonomi tinggi, sekaligus residu yang tak selalu tahu ke mana harus berakhir. Kulit berubah menjadi produk bernilai, sementara air bekas prosesnya berubah menjadi persoalan turun-temurun.
Produksi masih didominasi skala rumahan. Satu bengkel bisa melibatkan seluruh keluarga. Mesin digunakan, tapi tangan manusia tetap berperan utama. Kesalahan kecil bisa merusak selembar kulit, kata Wawan Ridwan. Namun kesalahan besar pada pengelolaan limbah tampaknya sudah terlalu biasa untuk disebut kesalahan.
Di era digital, perajin dituntut beradaptasi. Toko online, persaingan harga, dan produksi massal menjadi tantangan. Pemerintah daerah mendorong inovasi dan kolaborasi. Dukungan datang untuk pemasaran dan branding. Soal lingkungan, dorongannya masih pelan mungkin takut merusak aroma “warisan”.
Secara geografis, Sukaregang mudah dijangkau. Dari pusat kota hanya beberapa menit. Jalan sepanjang ratusan meter dipenuhi toko kulit. Lorong mode lokal yang ramai, lengkap dengan cerita, harapan, dan sungai yang setia menampung sisa proses di balik gemerlap etalase.
Selain dodol, inilah ikon Garut yang lain, indah di etalase, berat di hilir sungai.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









