“Kalau di Jabar mungkin pemeriksaannya dilakukan di daerah lain. Untuk Kota Bandung sendiri, sampai saat ini belum ada informasi warga yang terkena,” jelasnya.
Meski belum ada kasus, Dinkes Kota Bandung tidak memilih diam. Upaya antisipasi dilakukan melalui promosi kesehatan, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat, serta imbauan agar masyarakat menjaga kondisi tubuh.
“Ini virus flu, jadi etika batuk harus dijaga, olahraga, istirahat cukup, itu bagian dari pencegahan,” kata Sony.
Ia juga mengingatkan sifat virus influenza yang dikenal mudah bermutasi.
“Virus influenza ini rajanya mutasi. Jadi masyarakat harus menjaga pola hidup sehat, minum cukup, cuci tangan pakai sabun setelah bersentuhan atau sebelum makan. Itu jauh lebih efektif,” ujarnya.
Ketua IDI Jawa Barat, dr. Moh. Lutfi, menjelaskan bahwa secara klinis, gejala super flu masih serupa dengan influenza tipe A pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan nyeri otot.
“Perbedaan utamanya ada pada kecepatan penularan. Karena ini hasil mutasi, penularannya bisa lebih cepat dari flu sebelumnya,” ujar Lutfi.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan, apalagi langsung mencari antibiotik.
“Ini virus, bukan bakteri. Jadi kuncinya bukan antibiotik, tapi daya tahan tubuh,” tegasnya.
Untuk gejala ringan, masyarakat disarankan cukup melakukan isolasi mandiri dan istirahat.
“Tidak perlu langsung ke IGD. Kecuali jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau demam tinggi yang tidak turun, itu baru perlu ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












