Bisnis

IHSG Cetak Rekor, Tapi Ancaman Tekanan Asing Belum Hilang

rakyatdemokrasi
×

IHSG Cetak Rekor, Tapi Ancaman Tekanan Asing Belum Hilang

Sebarkan artikel ini
IHSG Cetak Rekor, Tapi Ancaman Tekanan Asing Belum Hilang locus online featured image

[Locusonline.co] Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Senin, 5 Januari 2026, dengan torehan rekor baru bersejarah. Indeks utama pasar modal nasional ini menguat 111,06 poin (1,27%) ke level 8.859,19, mencatatkan all-time high (ATH) tertinggi dalam sejarah penutupannya.

Pencapaian ini mengalahkan rekor sebelumnya di level 8.776,97 yang tercapai pada Desember 2025, menandai awal tahun 2026 dengan optimisme tinggi di tengah sentimen global yang campur aduk.

tempat.co

Sentimen Domestik Jadi Pengungkit Utama

Para analis memandang bahwa momentum penguatan IHSG hari ini terutama didorong oleh dukungan kuat dari katalis positif di dalam negeri, yang berhasil menopang pasar meski terdapat ketegangan geopolitik global.

“Penguatan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia dan juga dukungan katalis positif rilis data ekonomi dalam negeri, di mana posisi neraca perdagangan Indonesia bulan November 2025 mencatatkan surplus dan inflasi terjaga,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus (Nico).

Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan surplus perdagangan dan inflasi yang terkendali memberikan keyakinan kepada investor akan fundamental ekonomi Indonesia yang solid di awal tahun. Laju inflasi Indonesia sepanjang 2025 diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5-3,5 persen.

“January Effect” dan Penguatan Berkelanjutan

Pergerakan hari ini juga memperkuat fenomena “January Effect“, pola musiman di pasar saham yang kerap ditandai dengan kenaikan harga saham pada bulan pertama tahun baru. Fenomena ini terjadi karena investor cenderung melakukan aksi profit-taking pada akhir tahun dan mengalokasikan kembali dana segar, termasuk dari bonus akhir tahun, ke pasar saham setelah pergantian tahun.

Momentum ini telah terlihat sejak hari perdagangan pertama tahun 2026. Sebelumnya, pada Jumat (2/1), IHSG sudah menguat 1,17% dan melanjutkan reli positifnya hari ini.

Secara historis, berdasarkan data 20 tahun terakhir, Januari memang kerap menjadi bulan yang positif bagi IHSG dengan probabilitas penguatan sekitar 55% dan rata-rata imbal hasil positif. Kinerja ini melanjutkan tren solid IHSG sepanjang 2025, yang melonjak 22,13% dan tercatat 24 kali menyentuh level all-time high baru.

Pergerakan Sektor dan Aktivitas Transaksi

Penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan mayoritas sektor. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat, dipimpin oleh sektor transportasi & logistik yang naik 2,21%, diikuti oleh sektor barang baku (+2,08%) dan sektor energi (+1,76%). Satu-satunya sektor yang mengalami koreksi adalah sektor teknologi, yang melemah 0,50%.

Perdagangan hari ini berlangsung sangat ramai dengan partisipasi yang luas. Berikut adalah gambaran lengkap aktivitas pasar:

  • Total Nilai Transaksi: Rp 30,32 triliun.
  • Volume Saham: 70,25 miliar lembar saham.
  • Frekuensi Transaksi: 4,01 juta kali.
  • Kapitalisasi Pasar: Mencapai Rp 16.194 triliun, mendekati US$ 1 triliun.
  • Komposisi Saham: 446 saham menguat, 246 melemah, dan 114 stagnan.

Geliat transaksi sangat diwarnai oleh aktivitas tinggi pada saham-saham Grup Bakrie. Saham BUMI tercatat sebagai yang paling ramai ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp 5,91 triliun, menyumbang porsi signifikan dari total transaksi bursa. Selain BUMI, saham BRMS (Rp 1,55 triliun) dan DEWA (Rp 1,2 triliun) juga menjadi penyumbang likuiditas utama.

Lanskap Global dan Prospek ke Depan

Di kancah global, pelaku pasar tampaknya mengabaikan kekhawatiran geopolitik menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Sebaliknya, perhatian lebih banyak teralihkan pada data aktivitas bisnis di China yang tetap menunjukkan ekspansi, memberikan sinyal positif bagi ekonomi regional.

Pasar saham regional Asia juga mencatatkan kinerja positif yang turut mendukung sentimen, dengan indeks acuan seperti Nikkei 225 Jepang melonjak 2,97% dan Shanghai Composite China naik 1,38%.

Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa risiko tekanan jual dari investor asing dan gejolak geopolitik masih perlu diwaspadai. Ratna Lim, Head of Research Phintraco Sekuritas, menyatakan bahwa IHSG berpotensi terdampak sentimen negatif jika tekanan jual dari investor asing meningkat. Namun, dia juga mencatat bahwa kenaikan harga komoditas seperti minyak mentah dan emas dapat mendukung penguatan di sektor energi dan barang baku.

Secara keseluruhan, penutupan IHSG di level rekor tertinggi sepanjang masa ini merefleksikan keyakinan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi domestik berikutnya dan respons kebijakan dari otoritas untuk mengukur keberlanjutan momentum bullish ini ke depan. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow