LOCUSONLINE, GARUT – Di tengah hiruk-pikuk seminar, wisuda, dan jargon kampus merdeka, Universitas Garut (Uniga) memilih jalur berbeda turun ke lapangan voli dan menggelar Kontes Domba Ternak/Pesta Patok Piala Rektor. Minggu (11/1/2026), Uniga membuktikan bahwa membangun ekonomi daerah tak selalu dimulai dari ruang rapat ber-AC kadang cukup dari kandang dan rumput segar.
Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor IV Uniga, Hilmi Aulawi, ini seolah menegaskan satu hal: identitas Garut tak hanya hidup di proposal pembangunan, tapi juga di tubuh gagah Domba Garut. Dalam sambutannya, Hilmi menyebut Garut kaya akan ikon lokal dari Domba Garut, jeruk, dodol, hingga lanskap GURILAP (gunung, rimba, laut, pantai).
“Kegiatan ini punya nilai ekonomi tinggi. Budaya ternak domba bisa jadi solusi konkret percepatan ekonomi Garut,” ujar Hilmi, mengingatkan bahwa komoditas lokal sering kali lebih nyata dampaknya dibanding program yang sibuk di level wacana.
Baca Juga : Pemprov Jabar Tunda Bayar Kontraktor, Publik Disuguhi Dua Cerita “BTT dan DAU”
Pemerintah Kabupaten Garut melalui Kepala Diskanak, Dyah Savitri, ikut mengamini. Menurutnya, Pesta Patok bukan sekadar lomba adu gagah domba, melainkan strategi menjaga sumber daya genetik lokal yang makin terdesak oleh zaman dan oleh pasar yang sering lebih tergiur produk impor ketimbang aset sendiri.
“Ini identitas budaya sekaligus aset ekonomi. Tantangannya sekarang bagaimana menjaga kualitas genetik dan daya saing Domba Garut di era modern,” tegas Dyah.
Dukungan juga datang dari DPD HPDKI Jawa Barat. Bahrudin, perwakilannya, menyebut kegiatan ini sebagai contoh langka kolaborasi kampus, pemerintah, dan komunitas peternak kolaborasi yang biasanya baru ramai saat seremoni, tapi kali ini benar-benar menyentuh akar rumput.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









