Pesan tersebut terdengar sederhana, tapi punya makna tajam di tengah keluhan klasik warga soal air tak mengalir saat dibutuhkan, administrasi berbelit, hingga pelayanan yang sering kalah cepat dari bocoran pipa.
Pelatihan Public Service ini pun menjadi semacam pengingat halus: di era digital dan tuntutan transparansi, PDAM tak bisa lagi hanya mengandalkan status monopoli air bersih. Jika layanan masih berliku, pelanggan bisa pergi kalau bukan ke sumur, ya ke keluhan media sosial.
Kini bola ada di tangan manajemen Perumda Tirta Intan. Apakah dorongan Wakil Bupati ini akan benar-benar mengalir menjadi perubahan nyata, atau sekadar menguap seperti air di pipa bocor, publik Garut memilih menunggu. Sambil berharap, tentu saja, airnya tetap hidup.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










