| Tantangan | Kondisi Saat Ini di Cikawao/Bandung | Solusi yang Diusung |
|---|---|---|
| Sanitasi (Pembuangan Limbah) | 66 rumah tidak punya akses septic tank atau riol. Membangun jaringan riol baru di permukiman padat tidak memungkinkan secara teknis dan finansial. | Septic tank individu atau komunal. Solusi jangka pendek-menengah yang paling realistis untuk lokasi padat dan terbatas. |
| Akses Air Bersih | Cakupan layanan air bersih PDAM Kota Bandung hanya 38%. Sisanya bergantung pada sumur gali atau air kemasan. | Fokus pada penambahan sumber air baku (misalnya, dari Waduk Nanjung) dan perbaikan kebocoran pipa untuk meningkatkan kapasitas layanan. |
“PDAM Kota Bandung itu memang baru bisa meng-cover 38 persen wilayah pelayanan. Tantangannya memang besar sekali. Membangun riol sudah enggak mungkin. PDAM juga sudah enggak mungkin nambah riol baru,” kata Farhan, menggambarkan kompleksitas masalah.
Analisis: Komitmen Politik vs. Realitas Infrastruktur
Langkah cepat Farhan menyurvei dan mencari solusi untuk 66 rumah di Cikawao patut diapresiasi. Ini menunjukkan keseriusan untuk mengatasi masalah di akar rumput. Namun, kasus Cikawao hanyalah puncak gunung es.
- Skala Masalah yang Sebenarnya: Berapa banyak lagi “RT 7 RW 02 Cikawao” lain yang tersebar di bantaran sungai Cikapundung, Citarum, atau anak sungai kecil di Bandung? Data sistematis mengenai rumah tangga tanpa akses sanitasi layak di Bandung perlu dipublikasikan.
- Keterbatasan Solusi Teknis: Opsi septic tank komunal memang lebih realistis daripada membangun riol. Namun, pertanyaannya adalah: Siapa yang membiayai pembangunannya? Apakah anggaran sudah dialokasikan? Bagaimana pemeliharaannya? Apakah warga miskin di bantaran sungai mampu membayar iuran perawatan?
- Keterkaitan dengan Tata Ruang: Akar masalahnya adalah permukiman liar di bantaran sungai yang tidak memiliki akses infrastruktur dasar sejak awal. Solusi sanitasi harus dibarengi dengan kebijakan penataan ruang dan relokasi yang manusiawi, meski ini lebih rumit dan berjangka panjang.
- Air Bersih dan Sanitasi Dua Sisi Mata Uang: Tanpa pasokan air bersih yang cukup, program sanitasi juga akan sulit berjalan optimal. Warga butuh air untuk membersihkan diri dan menjaga kebersihan toilet. Perlu sinergi program antara Dinas PU (untuk septic tank) dan PDAM (untuk perluasan akses air).
Dari Survei ke Aksi Nyata dan Berkelanjutan
Komitmen Wali Kota Farhan untuk menghapus BABS adalah langkah penting. Namun, keberhasilannya tidak akan diukur dari satu kali survei di Cikawao.
Pemerintah kota harus mampu mentransformasi respons cepat ini menjadi program berkelanjutan yang meliputi: pemetaan daerah rawan sanitasi, penganggaran khusus untuk pembangunan septic tank komunal di daerah padat dan miskin, sosialisasi kesehatan lingkungan, serta percepatan perluasan akses air bersih PDAM.
Masyarakat juga menunggu transparansi: berapa anggaran yang disiapkan, berapa banyak rumah tangga yang akan dibantu pada 2026, dan bagaimana mekanisme pengaduan jika ada warga yang masih kesulitan. Hanya dengan pendekatan holistik dan berkelanjutan, predikat “Bebas BABS” untuk Kota Bandung akan benar-benar bermakna, bukan sekadar slogan. (**)













