Pernyataan tersebut sontak menjadi penegasan moral di tengah sorotan publik terhadap kinerja birokrasi. Isra Mi’raj pun kembali dihadirkan sebagai cermin, bukan hanya untuk mempertebal iman, tetapi juga untuk mengukur jarak antara nasihat dan realisasi.
Menutup sambutannya, Bupati Garut mengajak seluruh jamaah menjadikan momentum Isra Mi’raj sebagai ajang refleksi diri, memperbaiki niat, dan memperkuat integritas, baik sebagai individu beriman maupun sebagai pelayan publik.
Di Masjid Agung malam itu, pesan langit sudah disampaikan. Tinggal publik menunggu, apakah ia benar-benar turun menjadi kerja nyata, atau kembali naik ke arsip pidato tahunan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













