“Di tengah berbagai ajakan dan seruan itu, satu hal menjadi catatan penting dimana ketika negara sibuk menghitung persentase dan meminta relawan menyisir lapangan, 13 persen anak Garut sudah lebih dulu belajar di luar kurikulum belajar bertahan hidup tanpa sekolah.”
LOCUSONLINE, GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut kembali dihadapkan pada potret pendidikan yang rapi di atas kertas, tapi bocor di tengah jalan. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Garut, Nurrodhin, akhirnya angkat bicara soal anjloknya angka keberlanjutan sekolah dari SD ke SMP yang mencapai 13 persen.
Secara statistik, partisipasi pendidikan dasar di Garut nyaris sempurna. Angka partisipasi SD tercatat menyentuh 99 persen. Namun begitu bel sekolah SMP berbunyi, sekitar 13 persen siswa mendadak “menghilang” dari sistem, menyisakan angka partisipasi SMP hanya 87 persen.
“Artinya ada sekitar 13 persen anak yang tidak melanjutkan sekolah. Ini harus disisir, dicari satu per satu siapa saja anak SD yang tidak melanjutkan ke SLTP,” ujar Nurrodhin saat menghadiri Pengukuhan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Garut periode 2025–2027, Senin (19/1/2026). Dilansir dari berita RRI.co.id
Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa selama ini anak-anak yang putus sekolah berhasil lolos dari radar kebijakan, hingga akhirnya muncul sebagai angka statistik yang ‘kurang enak dipandang’. Nurrodhin pun mengajak PD IPM Garut melalui jaringan cabang di wilayah masing-masing untuk ikut berburu anak-anak yang tercecer dari bangku pendidikan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










