“Ayo bersama-sama menuntaskan persoalan kependidikan di Kabupaten Garut,” katanya, dengan nada optimistis yang datang setelah angka putus sekolah lebih dulu berbicara.
Baca Juga : Tanah Bergerak, Sekolah Menyingkir: Murid Banjarwangi Belajar di Tenda Sambil Menunggu Kajian Selesai
Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Garut, Agus Rahmat Nugraha, memberi catatan yang tak kalah menohok. Ia mengingatkan agar organisasi pelajar tidak terjebak pada rutinitas program formal semata, sementara persoalan karakter dan kepedulian sosial-lingkungan justru dibiarkan tumbuh liar.
“Penyelesaian alam itu harus dimulai dari penyelesaian manusianya. Hatinya ditata, perilakunya dikembalikan ke arah yang seharusnya,” ujarnya.
Agus juga menegaskan, pelajar Muhammadiyah Garut tidak cukup hanya sibuk dengan agenda organisasi, tetapi harus memiliki tanggung jawab sosial yang nyata di tengah masyarakat, termasuk terhadap problem pendidikan yang membuat ribuan anak berhenti sekolah sebelum waktunya.
Di tengah berbagai ajakan dan seruan itu, satu hal menjadi catatan penting dimana ketika negara sibuk menghitung persentase dan meminta relawan menyisir lapangan, 13 persen anak Garut sudah lebih dulu belajar di luar kurikulum belajar bertahan hidup tanpa sekolah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










