“Bagi warga Garut, tambahan anggaran tentu kabar baik. Tapi tahun 2026 tampaknya tak akan ditentukan oleh tebalnya pos BTT semata. Uji sebenarnya ada pada koordinasi di lapangan dan kesadaran mandiri masyarakat di wilayah rawan karena saat alam mulai berbicara keras, angka di APBD sering kali hanya bisa menjawab pelan.”
LOCUSONLINE, GARUT – Di tengah cuaca ekstrem yang ogah pamit hingga Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Garut memilih memperketat sabuk pengaman bukan di badan, tapi di kas daerah. Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dinaikkan Rp2,5 miliar. Masalahnya, kenaikan itu lebih mirip jaket tipis di tengah badai besar. Pertanyaannya sederhana tapi pedih,akan cukupkah untuk wilayah yang setiap hari hidup berdampingan dengan longsor, banjir, gunung api, hingga ancaman tsunami megathrust?
Hingga pertengahan 2026, status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi masih belum dicabut. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengonfirmasi BTT tahun ini menjadi Rp22,5 miliar naik tipis dari Rp20 miliar pada tahun sebelumnya. Naik ada, tapi jika disandingkan dengan peta risiko BPBD, angka itu terlihat kecil, bahkan sebelum hujan benar-benar deras.
Garut bukan cuma langganan banjir musiman. Daerah ini menyimpan daftar ancaman kelas berat:
- Benteng Selatan rapuh: garis pantai 80 kilometer yang langsung berhadapan dengan risiko tsunami megathrust.
- Ancaman vulkanik: Gunung Guntur berdiri gagah, membayangi pusat pemerintahan dan destinasi wisata.
- Topografi ekstrem: longsor dan banjir bandang mengintai di 42 kecamatan, merata tanpa pilih kasih.
Nurdin Yana tak menutup mata. Ia menyebut BTT sebagai anggaran “stimulan” kode halus bahwa uangnya bisa cepat habis. Jika situasi memburuk dan kas daerah ngos-ngosan, Pemkab Garut siap mengangkat tangan ke provinsi dan pusat.
“Prioritas utama kami keselamatan masyarakat. Kalau BTT tidak mencukupi, kami tidak akan bekerja sendiri,” ujar Nurdin, memberi isyarat bahwa kemandirian fiskal daerah masih punya titik rawan saat berhadapan dengan bencana skala besar.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










