Baca Juga : Banjir Naik Dua Meter, Negara Datang Lewat Panci: Dapur Lapangan Polda Jabar Turun ke Karangligar
Menyadari bahwa angka di APBD tak selalu sebanding dengan murka alam, BPBD Kabupaten Garut memilih jalur lain, dengan memperkuat barisan paling depan masyarakat. Kepala Pelaksana BPBD Garut, Aah Anwar Saepuloh, menekankan mitigasi berbasis akar rumput sebagai strategi utama 2026.
Pendekatannya jelas: memangkas waktu panik, mempercepat respons.
- Kencana (Kecamatan Tanggap Bencana) diaktifkan di seluruh 42 kecamatan.
- Destana (Desa Tanggap Bencana) dibentuk hingga tingkat desa agar penanganan tak menunggu instruksi panjang.
- Infrastruktur evakuasi diperbanyak, dari rambu hingga titik kumpul di zona merah.
Kenaikan BTT sekitar 12,5 persen tahun ini menandakan ada niat politik untuk lebih waspada. Namun, dengan status siaga yang terus diperpanjang, anggaran itu diperkirakan cepat terkuras untuk logistik darurat banjir dan longsor menyisakan ruang sempit jika bencana geologi datang tanpa undangan.
Bagi warga Garut, tambahan anggaran tentu kabar baik. Tapi tahun 2026 tampaknya tak akan ditentukan oleh tebalnya pos BTT semata. Uji sebenarnya ada pada koordinasi di lapangan dan kesadaran mandiri masyarakat di wilayah rawan karena saat alam mulai berbicara keras, angka di APBD sering kali hanya bisa menjawab pelan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










