“Supaya harga bawang nggak terus mahal, jadi kami bisa jual lebih murah ke pembeli,” kata Deni, menyuarakan keresahan banyak pedagang lain.
Baca Juga : Sengketa Lahan Mendidih, DPRD Jabar Ketuk Meja Agar Gubernur Turun Jangan Tunggu Api Jadi Arang
Dari pasar, agenda bergeser ke RSUD dr. Soekardjo, rumah sakit rujukan utama Priangan Timur. Di sana, Wapres meninjau kesiapan layanan dan fasilitas kesehatan. Pesan yang dibawa tetap sama yaitu pelayanan publik harus berkualitas, merata, dan berorientasi pada kemanusiaan bukan sekadar laporan di atas kertas.
Sektor pendidikan juga kebagian jatah kunjungan. Di SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Gibran mengecek langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk menilik menu yang disajikan kepada siswa. Program yang kerap dipuji di pusat ini diuji langsung di lapangan.
Nadia, salah satu siswi SMA 2 Tasikmalaya, mengaku menu MBG datang dengan variasi berbeda setiap hari. Di balik urusan perut, ia menyimpan mimpi yang lebih panjang untuk berprestasi, adaptif dengan zaman, serta menguasai sains dan teknologi sebagai bekal masa depan.
Agenda utama kunjungan ditutup di Pondok Pesantren Cipasung. Dalam suasana akrab, Wapres bersilaturahmi sekaligus menyaksikan presentasi santri yang memamerkan karya di bidang kecerdasan buatan dan robotik. Pemandangan yang mematahkan stigma lama pesantren tak lagi sekadar kitab dan papan tulis, tapi juga algoritma dan mesin cerdas.
Wapres juga meninjau fasilitas pelatihan AI dan robotik di pesantren tersebut, simbol upaya menyatukan nilai keislaman dengan kemajuan teknologi. Pesannya jelas: transformasi digital tak harus lahir dari gedung kaca di kota besar ia bisa tumbuh dari pesantren, dari daerah, dan dari tradisi.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












