Baca Juga : Dana Desa Menyusut, Desa Kersamanah Merancang Mimpi dengan Anggaran ‘Puasa’
Ia mencontohkan desa binaan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang berhasil mengekspor kopi, vanili, dan kemiri ke Australia membuktikan bahwa desa bisa menembus pasar global tanpa harus pindah alamat ke kota besar.
Menjawab isu sensitif soal dana desa, Yandri menegaskan anggaran tidak dipangkas satu rupiah pun. Yang berubah, kata dia, hanyalah cara mengelolanya agar tidak sekadar habis di laporan, tapi berputar di ekonomi desa.
“Dana desa tidak dipotong. Yang kami ubah manajemennya supaya lebih produktif dan tepat sasaran,” tegasnya.
Salah satu instrumen yang disiapkan adalah penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai simpul kegiatan ekonomi desa. Menurut Yandri, jika dana desa terus beredar di kampung sendiri, maka manfaatnya tak perlu dicari jauh-jauh.
“Uangnya tetap di desa, mutarnya juga di desa, untungnya balik ke desa,” pungkasnya.
Pesan Yandri ke para bupati terdengar jelas bahwa desa sudah diberi modal, panggung, dan peluang. Jika masih tertinggal, barangkali masalahnya bukan di kebijakan melainkan di kemauan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









