“Uang sudah banyak, bank siap menyalurkan, pemerintah rajin menyiram. Tapi kalau dunia usaha masih ragu melangkah, kredit tetap memilih diet dan ekonomi pun harus bersabar.”
LOCUSONLINE, JAKARTA – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M Juhro, akhirnya membuka tabir misteri klasik ekonomi nasional, mengapa likuiditas disiram deras, tapi kredit tetap malas bergerak. Jawabannya singkat tapi menohok masalahnya bukan di uang, melainkan di minat.
Hal itu disampaikan Solikin saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi XI DPR RI, Jumat (23/1/2026), merespons pertanyaan legislator yang heran melihat duit beredar, tapi aktivitas kredit tak kunjung bergairah.
Menurut Solikin, pemerintah dan BI memang telah menggeber pasokan uang primer (M0) untuk menopang likuiditas perbankan. Namun, uang tersebut berhenti di level “potensi” karena permintaan kredit dari dunia usaha dan masyarakat sedang loyo.
“M0 itu baru embrio uang. Uang dasar, cikal bakal. Dia baru jadi uang sungguhan kalau masuk proses penciptaan melalui kredit,” ujar Solikin. Tanpa permintaan, embrio itu tak pernah lahir apalagi tumbuh.
Ia menegaskan, persoalan utama saat ini ada di sisi permintaan. Respons pelaku ekonomi terhadap kucuran likuiditas tidak sekuat beberapa tahun lalu. Akibatnya, meski uang digelontorkan, roda ekonomi riil tetap berputar di tempat.
“Ketika likuiditas kita tambah, itu tidak otomatis terserap ke kegiatan ekonomi karena demand-nya memang belum cukup kuat,” katanya.
Baca Juga : GLMPK Bongkar Dapur PAD Garut: Uang Rakyat Banyak, Tapi Kok Rasanya Tetap Seret?
Fakta di lapangan menguatkan pernyataan tersebut. Pemerintah, melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, telah menempatkan dana Rp 276 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Namun, sepanjang 2025, pertumbuhan kredit hanya tercatat 9,69 persen secara tahunan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











